Rumah ideal Warga Muslim

23 Oct 2013

8521365a8dedeaf6f4dc69b2d8b6c9b3_70_best_wallpapers_by_korogan-13

SECARA FISIK

Pertama, Menjaga Kebersihan Rumah.
Rumah ideal ialah rumah yang memperhatikan kebersihan, selalu menjaganya dan
mengaplikasikan firman Allah :
Dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah/9: 108).

Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan, karena kebersihan merupakan bagian dari
ibadah. Seorang muslim dituntut untuk selalu menjaga kebersihan pakaiannya dari najis dan
kotoran. Begitu juga diperintahkan untuk bersuci setelah membuang air besar ataupun kecil,
membersihkan kotoran, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu
kemaluan, membersihkan diri dari hadats, haid dan nifas. Semua itu merupakan kebersihan-
kebersihan yang dianjurkan dan diperhatikan oleh kaum Muslimin. Demikian juga dengan
menggosok gigi atau menggunakan siwak dan lain-lainnya.

Islam juga memerintahkan kita untuk membersihkan hati dari dengki dna hasad, menjaga
mulut dari perkataan yang tidak bermanfaat, serta perkataan yang menyakitkan orang lain.
Dengan demikian, seorang muslim benar-benar termasuk orang-orang yang menjaga
kebersihan, sehingga tidak ada jalan bagi setan masuk ke dalam rumahnya.

Kedua, Memperhatikan hijab.
Dengan adanya hijab, maka kaum wanita yang mendiami rumah akan terjaga
kehormatannya, dan merasa aman dari pandangan orang lain, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Taala, yang artinya: Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada
mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih
suci bagi hatimu dan hari mereka. (QS al Ahzab/33: 53).

Menurut Imam al Qurthubi, dalam ayat ini terdapat dalil bahwasanya Allah mengijinkan
bertanya kepada isteri-isteri Nabi shollallahu alaihi wa sallam dari belakang tabir, apabila
ada keperluan atau ingin bertanya tentang suatu masalah; dan seluruh wanita termasuk
dalam makna ini, sesuai dengan prinsip-prinsip syariah bahwasanya wanita adalah aurat,
badannya dan suaranya.(Tafsir al Qurthubi 14/227).

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi menjelaskan dalam kitab beliau, bahwasanya
dalam ayat yang mulia ini terdapat dalil yang sangat jelas tentang wajibnya tabir dan
merupakan hukum yang umum bagi seluruh wanita, bukan khusus bagi isteri-isteri Nabi
alaihi wa sallam saja, walaupun dari sisi konteks kalimatnya khusus bagi mereka. Akan
tetapi, keumuman sebabnya sebagai dalil bagi keumuman hukumnya. (Tafsir Adhwaul-
Bayan, 6/242).

Ketiga, Memisahkan tempat tidur anak, Khususnya apabila mereka mendekati usia
baligh.
Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda :
Perintahkan anak yang berumur tujuh tahun untuk mengerjakan shalat; pukullah mereka
pada umur sepuluh tahun jika mereka enggan mengerjakannya, dan pisahkanlah tempat
tidur mereka. (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, 495).

Sebaiknya orang tua memisahkan tempat tidur anak-anak yang hampir baligh, laki-laki atau
perempuan, karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk
melakukannya. Berkumpulnya mereka dalam satu tempat tidur, tersingkapnya aurat dan
bersentuhan badan mereka, akan menimbulkan keburukan dan kerusakan, khususnya pada
umur-umur yang mendekati baligh. Al Manawi di dalam kitab Fathul-Qadir Syarhi al Jami
berkata: Pisahkan tempat tidur anak-anak, jika mereka telah berumur sepuluh tahun, untuk
menjaga ddari gejolak nafsu walaupun sesama anak perempuan.

Keempat, Tidak memasukkan gambar-gambar makhluk yang bernyawa dan
patung-patung ke dalam rumah, dan juga tidak memelihara anjing.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya malaikat tidak memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar. (HR al Bukhari)

Di dalam kitab beliau, al Iman Manawi berkata: Para malaikat yang dimaksud di sini ialah
malaikat rahmat dan barakah, atau malaikat yang mengelilingi manusia, atau
mengunjunginya untuk mendengar dzikir atau yang semisalnya, bukan malaikat yang
mencatat amal perbuatan manusia; sesungguhnya para malaikat itu tidak pernah
meninggalkan mereka sekejap pun, demikian juga malaikat pencabut nyawa. Para malaikat
tidak memasuki rumah atau sejenisnya, yang di dalamnya terdapat gambar; karena
diharamkannya menggambar makhluk hidup; karena tukang gambar seakan Allah dalam
masalah pembentukan. Ini memberikan kesimpulan sebab diharamkannya gambar dan
kerasnya pengingkaran tentang hal itu. Dan malaikat tidak memasuki rumah, yang di
dalamnya ada anjing, karena najisnya dan menyerupai tempat-tempat yang kotor; padahal
malaikat tersucikan dari tempat-tempat kotor. Maka tepatlah malaikat menjauhi rumah-
rumah seperti ini. (Faidhul-Qadhir, 2/394).

Kelima, Menjauhkan rumah dari nyanyian dan alat-alat musik.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman, yang artinya:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari
jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan
memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia
berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan- akan
ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.
(QS. Luqman/31: 6-7).

Al Wahidi dan yang lainnya berkata: Sebagian besar ahli tafsir (berpendapat), yang
dimaksud dengan perkataan yang tidak berguna (dalam ayat ini) ialah nyanyian. Demikian
juga pendapat Abdullah Ibn Abbas, Abdullah Ibn Masud, Abdullah Ibn Umar, Mujahid dan
Ikrimah. (Ighatsatul-lihfan fi Mashayidisy-Syaithan, 1/360).

Imam Ibnu Qayyim menjelaskan: Sesungguhnya tidak engkau dapatkan seseorang yang
sibuk dengan nyanyian dan alat-alatnya melainkan ia telah tersesat ilmu dan amalnya dari
jalan petunjuk. Dia mendengarkan nyanyian dan berpaling dari al Quran. Apabila
ditunjukkan kepadanya antara mendengar nyanyian dan mendengar al Quran, maka ia lebih
memilih mendengarkan nyanyian, dan merasa sangat berat untuk mendengar al Quran.

Beliau rahimahullahu melanjutkan penjelasannya: Pembicaraan dalam masalah (bahaya
nyanyian) ini, dirasakan oleh orang yang masih ada kehidupan di hatinya. Adapun orang
yang hatinya telah mati dan fitnahnya cukup besar, maka dia menutup dirinya dari nasihat
tersebut.

Allah telah berfirman, yang artinya:

Barangsiapa yang Allah menghendaki
kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang)
daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati
mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang
besar. (QS al Maidah/5 ayat 41).

Keenam, Membersihkan rumah dari segala tanda-tanda salib.

Sesuatu yang sangat memprihatinkan bahwasanya sebagian besar kaum muslimin mengikuti
kebiasaan orang-orang kafir secara membabi buta. Orang-orang kafir membuka pintu-pintu
kesesatan dengan memasukkan tanda-tanda salib ke dalam rumah-rumah kaum Muslimin
tanpa mereka sadari. Tanda-tanda salib ini berbentuk ornamen hiasan pada baju, jendela,
buku-buku dan lain-lainnya.

Oleh karena itu berhati-hatilah! Jangan sampai barang yang keji ini masuk ke dalam rumah

kita, karena ini merupakan ciri-ciri kesyirikan dan kekufuran. Larang ini disebutkan dalam
hadits Nabi shollallahu alaihi wa sallam :

Sesungguhnya Nabi, tidaklah meninggalkan sesuatu yang berbentuk salib, melainkan beliau
rusak. (HR Imam Bukhari, 5/2220).

SECARA MAKNAWI

Pertama, Berusaha membina hubungan yang harmonis antara suami dan isteri.
Rumah tangga bahagia adalah kunci kebaikan umat. Sedangkan kebaikan umat merupakan
faktor utama tercapainya kejayaan dan kemuliaan. Maka umat tak mungkin baik, kecuali
pondasi paling mendasar dari kehidupan masyarakat, yaitu rumah tangga menjadi baik.
Rumah tangga tak mungkin bahagia, kecuali jika suami dan isteri bersikap baik, tunduk dan
patuh dalam menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Taala.

Demikian juga dengan suami yang baik, ia selalu menunaikan kewajiban-kewajibannya; baik
yang berhubungan dengan Rabbnya, keluarga, maupun orang-orang yang menjadi
tanggungannya dengan ketulusan hati dan penuh tanggung jawab. Selain itu, dalam urusan
rumah tangga, dia tidak serakah, tidak menuntut haknya lebih banyak dari yang semestinya.
Dia pun lapang dada, bila haknya berkurang dari yang seharusnya. Pantang menyia-nyiakan
kewajiban. Bahkan, ia tunaikan terlebih dahulu kewajibannya sebelum menuntut haknya.
Sedangkan seorang isteri yang baik, ialah isteri yang taat kepada Rabbnya, mempergauli
suaminya dengan baik, tidak menyia-nyiakan kewajibannya dan tidak menuntut haknya
lebih dari semestinya.

Dari rumah inilah akan lahir tokoh-tokoh besar umat.Baik dari kalangan pria atau wanita.
Perkawinan adalah ikatan terpenting. Bila ikatan ini berjalan di atas ketakwaan, iman dan
kasih sayang, maka umat ini akan tampil dengan kemuliaannya dan disegani. Sebaliknya,
jika hak dan kewajiban rumah tangga diabaikan maka rumah tangga akan berantakan.
Demikian juga umat akan tercerai-berai dan terhinakan. Oleh sebab inilah Islam hadir untuk
memelihara ikatan tersebut, mengokohkannya dan menjaga eksistensinya.

Kedua, Menjaga hubungan yang baik antara anak dan orang tua.
Rumah yang penuh kebahagiaan, ialah rumah yang dibangun di atas dasar ketaatan kepada
Allah Subhanahu wa Taala, berpegang teguh dengan adab-adab Nabi shollallahu alaihi wa
sallam, dan berbakti kepada orang tua; yaitu dengan berbuat baik, memenuhi seluruh
haknya, selalu menaati orang tua dalam perkara yang maruf, menjauhi perkara-perkara
yang dibencinya.

Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban yang sangat ditekankan. Oleh sebab itu,
Allah Subhanahu wa Taala menggandengkan dengan perintah untuk mengesakan-Nya, Allah
berfirman, yang artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-
baiknya. (QS al Isra/17: 23).

Juga disebutkan dalam sebuah hadits, Rasullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka, ditanyakan kepada beliau: Siapa,

wahai Rasulullah? (Rasulullah menjawab), Orang yang menjumpai kedua orang tuanya
dalam keadaan usia lanjut salah satunya atau keduanya, lalu ia tidak dapat masuk surga.
(HR. Muslim 4628).

Berbakti kepada orang tua merupakan cahaya penerang bagi rumah kaum Muslimin. Di
dalamnya terdapat adab-adab, misalnya: mendengar perkataan mereka, memenuhi perintah
mereka, menjawab panggilan mereka, merendahkan diri kepada orang tua dengan penuh
kasih sayang, tidak menyelisihi perintahnya, mendoakan dan menjaga kehormatannya
setelah mereka wafat, menyambung tali silaturrahmi dengan kerabat-kerabatnya semasa
mereka masih hidup dan sesudah wafatnya, tidak durhaka kepada mereka, serta bersedekah
atas nama mereka. Dengan demikian rumah-rumah yang dihuni oleh orang-orang yang
berbuat baik kepada orang tuanya terasa tenang, tenteram, dan terjaga dari godaan-godaan
setan.

Ketiga. Hubungan sesama anak-anak di dalam rumah.
Menjadi kewajiban orang tua untuk memperhatikan sikap anak-anak terhadap saudara-
saudaranya. Berusaha membimbing mereka menuju kebaikan sesuai dengan
kemampuannya. Tekankan anak yang lebih muda untuk menghormati yang lebih tua, dan
yang lebih tua menyayangi yang lebih muda.
Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda :

Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengetahui hak orang yang lebih tua dan tidak
menyayangi orang yang lebih muda. (HR. Ahmad).

Hendaklah orang tua mengajarkan adab dan sopan santun terhadap sesama mereka, tidak
saling mengejek dan merendahkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala, yang
artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan
pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan
itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk
sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang
zalim. (QS al Hujurat/49:11).

Begitu juga, hendaknya orang tua memperhatikan dan mengarahkan anak-anak kepada hal-
hal yang bermanfaat, dan bukan pada hal-hal yang merusak. (Fiqh Tarbiyatil al Abna wa
Thaifatu min-Nashaih ath-Thiba, hlm. 145)

Keempat. Rumah sebagai tempat berdzikir dan beribadah kepada Allah Subhanahu
wa Taala.

Perumpamaan rumah yang disebutkan nama Allah di dalamnya dan yang tidak, adalah
sebagaimana orang yang hidup dan mati. (HR. Muslim, 779).
Betapa banyak rumah-rumah kaum Muslimin yang sepi dari dzikrullah, bahkan lebih dipenuhi

dengan berbagai macam perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa
Taala, seperti musik, gambar-gambar makhluk bernyawa, dan berbagai macam bentuk
maksiat. Sedangkan rumah-rumah yang di dalamnya selalu diramaikan dengan aktifitas
ibadah, adalah rumah yang selalu dikelilingi para malaikat dan membuat setan lari darinya,
sebagaimana disebutkan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam dalam hadits:

Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari
dari rumah yang dibacakan surat al Baqarah. (HR. Muslim).

Juga dalam hadits yang lain, beliau shollallahu alaihi wa sallam bersabda:

Jika salah seorang di antara kalian telah selesai dari shalat di masjidnya, maka hendaklah
memberikan bagian shalatnya di rumahnya. Sesungguhnya Allah memberikan kebaikan di
rumahnya dari sebab shalatnya. (HR. Muslim, 778).

Imam an Nawawi berkata: Jumhur ulama berpendapat, shalat itu adalah shalat sunnah
(yang dikerjakan di rumah) dalam rangka menyembunyikannya (dari pandangan manusia).
Juga karena hadits lainnya: sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali
shalat yang wajib, Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam menganjurkan shalat di rumah,
karena lebih tersembunyi (dari pandangan manusia), lebih jauh dari sifat riya, dan lebih
terjaga dari perkara-perkara yang menyebabkan terhapusnya suatu amalan. Juga untuk
mendatangkan barakah bagi rumah tersebut, demikian juga turunnya malaikat dan larinya
setan darinya.

Akhirnya kami mengajak kaum Muslimin agar menjadikan rumah-rumah mereka, sebagai
rumah yang dipenuhi dengan ruku, sujud, tilawat, menunaikan hak-hak Allah Subhanahu
mengikuti adab-adab Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, menunaikan hak-hak sesama
dan menjauhkan segala perkara-perkara yang mendatangkan kemurkaan dan adzab-Nya.
Sehingga rumah-rumah kaum Muslimin pun merupakan surga mereka di dunia sebelum
meraih surga di akhirat kelak.

Sumber : Majalah Assunnah, Edisi 02/Tahun XI/1428H/2007M

Oleh : Ustadz Abu Saad Muhammad Nur Huda


TAGS


Comment
-

Author

Seorang Guru. Bukan Ustadz. Yang hanya ingin berbagi ilmu dan kemanfaatan bagi sesama. Guru mantan musisi rock n roll yang ingin berguna bagi agama dan negara. Ingin mendekat pada Rabb Semessta Alam tanpa harus menjadi manusia munafik.

Follow Me